A. BINATANG YANG HALAL
Binatang yang halal artinya
binatang yang boleh dimakan menurut hukum syariat Islam. Secara garis besar
binatang yang halal dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Binatang yang Hidup di Laut/Air
Halalnya binatang laut ini
berdasarkan dalil-dalil berikut:
Al-Qur’an surat
Al-Maidah ayat 96
Artinya:
Dihalalkan bagimu binatang buruan
laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu,
dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap)
binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah
yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. Al-Maidah [5]:96)
Hadits Nabi Saw:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata:
Rasululla Saw bersabda: mengenai laut bahwa laut itu suci airnya dan halal
bangkainya. (HR. Imam Empat)
Sabda Rasulullah Saw:
”Dilahalalkan bagi kita (makan)
da macam bangkai dan dua macam darah, yaitu bangkai ikan dan bangkai belalang
dan dua darah ialah hati dan limpa” (HR. Daruqthni).
2. Binatang yang Hidup di Darat
a) Binatang ternak, seperti: kerbau,
sapi, unta, kambing, domba dan lain-lain.
b) Kuda, kijang, menjangan, himar
liar, kelinci, burung-burung kecil, dan lain-lain.
Dalil yang digunakan sebagai
landasan hukumnya adalah sebagai berikut:
Firman Allah:
Artinya:
Dan dia Telah menciptakan
binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan
berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. (Q.S. An-Nahl [16]:5)
B. BINATANG YANG HARAM
Binatang yang
diharamkan ialah binatang yang tidak boleh dimakan berdasarkan hukum syariat
Islam.Macam-macam binatang haram adalah sebagai berikut:
1. Binatang yang diharamkan dalam
penjelasan Al-Qur’an
a. Binatang yang disebutkan pada
al-Qur’an surah al-Maidah ayat 3:
Artinya:
Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain
Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu)
yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak
panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu
janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maidah [5]:3)
Dalam ayat
tersebut terdapat 10 jenis makanan yang jelas-jelas telah dilarang oleh Allah
Swt, yaitu:
1) Bangkai
2) Darah
3) Daging babi
4) Daging binatang yang disembelih
atas nama selain Allah
5) Binatang yang dicekik
6) Binatang yang dipukul
7) Binatang yang jatuh
8) Binatang yang ditanduk
9) Binatang yang telah dimakan
binatang buas
10) Binatang yang disembelih untuk berhala
Teknik Penyembelihan Hewan yang
Halal
1. Penyembelihnya harus seorang Muslim.
2. Didahului mengucapkan “Bismillahirrohmannirrohim”.
3. Menggunakan pisau yang tajam.
4. Tidak boleh diulang-ulang.
5. Darah hewan harus tuntas, maka urat nadi kanan kiri leher, saluran nafas dan saluran makanan harus putus.
6. Bila menggunakan pemingsanan harus terukur, tidak boleh mati sebelum disembelih.
7. Tidak boleh diproses lebih lanjut sebelum benar-benar mati.
Teknik Pengolahan Makanan Halal
1. Harus dicermati asal-usul bahan, jangan sampai ada yang berasal dari bahan non halal
2. Jangan sampai ada cemaran bahan non halal pada:
a. Dapur tempat pengolahan.
b. Bahan baku, bumbu dan bahan penolong yang digunakan.
c. Bahan mentah sebelum diolah.
d. Bahan jadi setelah diolah.
e. Alat-alat dan wadah yang digunakan.
f. Tempat pencucian alat-alat dan wadah.
g. Petugas/karyawan pada bagian produksi.
h. Bila perusahaan mengolah produksi halal dan juga mengolah produk non halal, maka tersebut di atas harus terpisah.
Teknik Pengolahan Pada Catering atau Rumah Makan
Sama dengan cara pengolahan produk halal tersebut di atas ditambah:
1. Bila rumah makan atau catering mengolah dan menyajikan makanan non halal, maka dapur dan tempat penyajian harus terpisah.
2. Tidak dibenarkan menyajikan minuman beralkohoL
1. Penyembelihnya harus seorang Muslim.
2. Didahului mengucapkan “Bismillahirrohmannirrohim”.
3. Menggunakan pisau yang tajam.
4. Tidak boleh diulang-ulang.
5. Darah hewan harus tuntas, maka urat nadi kanan kiri leher, saluran nafas dan saluran makanan harus putus.
6. Bila menggunakan pemingsanan harus terukur, tidak boleh mati sebelum disembelih.
7. Tidak boleh diproses lebih lanjut sebelum benar-benar mati.
Teknik Pengolahan Makanan Halal
1. Harus dicermati asal-usul bahan, jangan sampai ada yang berasal dari bahan non halal
2. Jangan sampai ada cemaran bahan non halal pada:
a. Dapur tempat pengolahan.
b. Bahan baku, bumbu dan bahan penolong yang digunakan.
c. Bahan mentah sebelum diolah.
d. Bahan jadi setelah diolah.
e. Alat-alat dan wadah yang digunakan.
f. Tempat pencucian alat-alat dan wadah.
g. Petugas/karyawan pada bagian produksi.
h. Bila perusahaan mengolah produksi halal dan juga mengolah produk non halal, maka tersebut di atas harus terpisah.
Teknik Pengolahan Pada Catering atau Rumah Makan
Sama dengan cara pengolahan produk halal tersebut di atas ditambah:
1. Bila rumah makan atau catering mengolah dan menyajikan makanan non halal, maka dapur dan tempat penyajian harus terpisah.
2. Tidak dibenarkan menyajikan minuman beralkohoL
P
pPerihal Binatang Kurban
A.Harus Dari Binatang Ternak
Binatang ternak tersebut berupa
unta, sapi, kambing ataupun domba. Hal ini sebagaimana firman Allah (artinya):“Dan bagi
tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka
menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada
mereka.” (Al Hajj:
34)
b. Harus Mencapai Usia Musinnah dan
Jadza’ah
Hal ini didasarkan sabda Nabi :
لاَ تَذْبَحُوْا إِلاَّ مُسِنَّةً
إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوْا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ
“Janganlah kalian menyembelih kecuali
setelah mencapai usia musinnah (usia yang cukup bagi unta, sapi dan kambing
untuk disembelih, pen). Namun apabila kalian mengalami kesulitan, maka
sembelihlah binatang yang telah mencapai usia jadza’ah (usia yang cukup, pen)
dari domba.” (H.R.
Muslim).Oleh karena tidak ada ketentuan syar’i tentang batasan usia tersebut
maka terjadilah perselisihan di kalangan para ulama. Akan tetapi pendapat yang
paling banyak dipilih dan dikenal di kalangan mereka adalah: unta berusia 5
tahun, sapi berusia 2 tahun, kambing berusia 1 tahun dan domba berusia 6 bulan.
c. Tidak Cacat
Klasifikasi cacat sebagaimana disebutkan Nabi dalam
sabdanya:
أَرْبَعٌ لاَتَجُوْزُ فِيْ
اْلأَضَاحِي: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوْرُهاَ وَاْلمَرِيْضَةُ اَلْبَيِّنُ
مَرَضُهَا وَاْلعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ضِلْعُهَا وَاْلكَسِيْرُ -وَفِي لَفْظٍ-
اَلْعَجْفَاءُ اَلَّتِي لاَ تُنْقِيْ
“Empat bentuk cacat yang tidak boleh
ada pada binatang kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas
sakitnya, pincang yang jelas pincangnya dan kurus yang tidak bersumsum.” (H.R. Abu Dawud dan selainnya
dengan sanad shahih)
Jumlah Binatang Kurban
a. Satu Kambing Mewakili Kurban Sekeluarga
Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu’anhu menuturkan:
“Dahulu ada seseorang dimasa Rasulullah menyembelih seekor kambing untuk
dirinya dan keluarganya.” (H.R. At Tirmidzi dan selainnya dengan sanad shahih)
b. Satu Unta Atau Sapi Mewakili
Kurban Tujuh Orang Dan Keluarganya
Hal ini dikemukakan Jabir bin Abdillah: “Kami dulu
bersama Rasulullah pernah menyembelih seekor unta gemuk untuk tujuh orang dan
seekor sapi untuk tujuh orang pula pada tahun Al Hudaibiyyah.” (H.R. Muslim)
Tata Cara Penyembelihan
a. Menajamkan Pisau Dan
Memperlakukan Binatang Kurban Dengan Baik
b. Menjauhkan Pisaunya Dari
Pandangan Binatang Kurban
c. Menghadapkan Binatang Kurban
Kearah Kiblat
d. Tata Cara Menyembelih Unta, Sapi,
Kambing Atau Domba
Apabila sesembelihannya berupa unta, maka hendaknya
kaki kiri depannya diikat sehingga dia berdiri dengan tiga kaki. Namun bila
tidak mampu maka boleh dibaringkan dan diikat. Setelah itu antara pangkal leher
dengan dada ditusuk dengan tombak, pisau, pedang atau apa saja yang dapat mengalirkan
darahnya. Sedangkan bila sesembelihannya berupa sapi, kambing atau domba maka
dibaringkan pada sisi kirinya, kemudian penyembelih meletakkan kakinya pada
bagian kanan leher binatang tersebut. Seiring dengan itu dia memegang kepalanya
dan membiarkan keempat kakinya bergerak lalu menyembelihnya pada bagian atas
dari leher.
e. Berdoa Sebelum Menyembelih
Lafadz doa tersebut adalah:
- بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Dengan nama Allah dan Allah itu Maha
Besar.” (H.R.
Muslim)
- بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
“Dengan nama Allah dan Allah itu Maha
Besar, Ya Allah ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu.” (H.R. Abu Dawud dengan sanad
shahih)
Tidak Memberi Upah Sedikitpun Kepada
Penyembelih Dari Binatang Sembelihannya
Boleh Memanfaatkan Sesuatu Dari
Binatang Kurban
Diperbolehkan untuk memanfaatkan sesuatu dari binatang
tersebut seperti kulit untuk sepatu, tas, tanduk untuk perhiasan dan lain
sebagainya. Hal ini didasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu tadi.
Tidak Boleh Menjual Sesuatupun Dari
Binatang Kurban
Disyariatkan Pemilik Kurban Memakan
Daging Kurbannya
Diantara dalil yang mendasari perbuatan ini secara
mutlak (tanpa ada batasan waktu) adalah firman Allah (yang artinya): “Maka
makanlah daging-daging binatang tersebut dan berilah makan kepada orang fakir.” (Al Hajj : 28).Demikian juga
sabda Nabi (yang artinya): “Makanlah kalian, berilah makan (baik
sebagai sedekah kepada fakir atau hadiah kepada orang kaya) dan simpanlah
(untuk kalian sendiri).” (H.R. Bukhari) Hadits Abu Qatadah Al Anshari :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ سُئِلَ عَنْ
صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ اْلمَاضِيَةَ وَاْلبَاقِيَةَ
“Bahwa Rasulullah pernah ditanya
tentang puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Maka beliau menjawab: “Menghapus dosa
setahun yang lalu dan yang akan datang.” (H.R. Muslim)
Jenis-jenis bangkai berdasarkan ayat-ayat di atas:1. Al-Munhaniqoh, yaitu hewan yang mati karena tercekik.
2. Al-Mauqudzah, yaitu hewan yang mati karena terkena pukulan keras.
3. Al-Mutaroddiyah, yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.
4. An-Nathihah, yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya.
5. Hewan yang mati karena dimangsa oleh binatang buas.
6. Semua hewan yang mati tanpa penyembelihan, misalnya disetrum.
7. Semua hewan yang disembelih dgn sengaja tak membaca basmalah.
8. Semua hewan yang disembelih utk selain Allah walaupun dgn membaca basmalah.
9. Semua bagian tubuh hewan yang terpotong/terpisah dari tubuhnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid secara marfu’:Janin yang berada dlm perut hewan yang disembelih. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad & Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
“Penyembelihan utk janin adalah penyembelihan induknya”.
Maksudnya jika hewan yang disembelih sedang hamil, maka janin yang ada dlm perutnya halal utk dimakan tanpa harus disembelih ulang.
2. Darah.
Yakni darah yang mengalir & terpancar. Hal ini dijelaskan dlm surah Al-An’am ayat 145:
أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا
“Atau darah yang mengalir”.
Dikecualikan darinya hati & limfa sebagaimana ditunjukkan dlm hadits Ibnu ‘Umar yang baru berlalu. Juga dikecualikan darinya darah yang berada dlm urat-urat setelah penyembelihan.
3. Daging babi.
Telah berlalu dalilnya dlm surah Al-Ma`idah ayat ketiga di atas. Yang diinginkan dgn daging babi adalah mencakup seluruh bagian-bagian tubuhnya termasuk lemaknya.
4. Khamar.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dgn panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma`idah: 90)
Dan dlm hadits riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu’:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Semua yang memabukkan adalah haram, & semua khamar adalah haram”.
Dikiaskan dengannya semua makanan & minuman yang bisa menyebabkan hilangnya akal (mabuk), misalnya narkoba, ganja, & semacamnya.
7. Jallalah.
Dia adalah hewan pemakan feses (kotoran) manusia atau hewan lain, baik berupa onta, sapi, & kambing, maupun yang berupa burung, seperti: garuda, angsa (yang memakan feses), ayam (pemakan feses), & sebagian gagak. Lihat Nailul Author (8/128).
Hukumnya adalah haram. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad -dalam satu riwayat- & salah satu dari dua pendapat dlm madzhab Syafi’iyah, mereka berdalilkan dgn hadits Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah & dari meminum susunya”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`i (3787))
Beberapa masalah yang berkaitan dgn jallalah:
1. Tidak semua hewan yang memakan feses masuk dlm kategori jallalah yang diharamkan, akan tetapi yang diharamkan hanyalah hewan yang kebanyakan makanannya adalah feses & jarang memakan selainnya. Dikecualikan juga semua hewan air pemakan feses, karena telah berlalu bahwa semua hewan air adalah halal dimakan. Lihat Hasyiyatul Al-Muqni’ (3/529).
2. Jika jallalah ini dibiarkan sementara waktu hingga isi perutnya bersih dari feses maka tak apa-apa memakannya ketika itu. Hanya saja mereka berselisih pendapat mengenai berapa lamanya dia dibiarkan, & yang benarnya dikembalikan kepada ukuran adat kebiasaan atau kepada sangkaan besar.
9. Kuda.
Telah berlalu dlm hadits Jabir bahwasanya mereka memakan kuda saat perang Khaibar. Semakna dengannya ucapan Asma` bintu Abi Bakr -radhiallahu ‘anhuma-:
نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَاهُ
“Kami menyembelih kuda di zaman Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- lalu kamipun memakannya”. (HR. Al-Bukhary & Muslim)
Maka ini adalah sunnah taqririyyah (persetujuan) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.
Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, salah satu pendapat dlm madzhab Malikiyah, serta merupakan pendapat Muhammad ibnul Hasan & Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah. Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ath-Thohawy sebagaimana dlm Fathul Bary (9/650) & Imam Ibnu Rusyd dlm Al-Bidayah (1/3440).
[Mughniyul Muhtaj (4/291-291), Al-Muqni' beserta hasyiyahnya (3/528), Al-Bada`i' (5/18), & Asy-Syarhus Shoghir (2/185)]
10. Baghol.
Dia adalah hewan hasil peranakan antara kuda & keledai. Jabir -radhiallahu ‘anhuma- berkata:
حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم – يَعْنِي يَوْمَ خَيْبَرٍٍ – لُحُوْمَ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ الْبِغَالِ
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak & daging baghol. (HR. Ahmad & At-Tirmidzy)
Dan ini (haram) adalah hukum utk semua hewan hasil peranakan antara hewan yang halal dimakan dgn yang haram dimakan.
[Al-Majmu' (9/27), Ays-Syarhul Kabir (11/75), & Majmu' Al-Fatawa (35/208)].
13. Monyet.
Ini merupakan madzhab Syafi’iyah & merupakan pendapat dari ‘Atho`, ‘Ikrimah, Mujahid, Makhul, & Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Dan monyet adalah haram, karena Allah -Ta’ala- telah merubah sekelompok manusia yang bermaksiat (Yahudi) menjadi babi & monyet sebagai hukuman atas mereka. Dan setiap orang yang masih mempunyai panca indra yang bersih tentunya bisa memastikan bahwa Allah -Ta’ala- tidaklah merubah bentuk (suatu kaum) sebagai hukuman (kepada mereka) menjadi bentuk yang baik dari hewan, maka jelaslah bahwa monyet tak termasuk ke dlm hewan-hewan yang baik sehingga secara otomatis dia tergolong hewan yang khobits (jelek)”.



Jadi inget pelajaran SMP :)
BalasHapushehehe ^_^
BalasHapus